"ARTIKEL" SUDAHKAH RESAPI TIGA BARIS PUISI IAMAM NAWAWI?

Ditulis oleh: Moh Ali Chaidar
Mahasiswi Pendidikan Bahasa Arab Jurusan Tarbiyah STAIN Pamekasan

Para petani menggarap sawahnya tanpa lelah demi sesuap nasi. Itulah yang kata-kata yang sering terdengar dari media cetak atau elektronik. Begitu pula dokter, nelayan, pelajar kesemuanya selalu berjalan dalam usaha menggapai cita. Memang sudah fitrahnya manusia bercita-cita entah cita-cita kotor atau mulia, kesemuanya sama terjadi dalam realita. Cita-cita baik mewarnai hidup dan melambangkan tekad dan kaindahan. Sementara cita yang kotor menjadi ironi bagi hati nurani . Koruptor ingin memperbanyak uang namun hati nurani yang waras pasti tidak rela dengan perbuatan itu. Ya itulah cita-cita dan tujuan hidup manusia selalu wajar dan terkadang anomalis.
Hatikah yang berfikir atau otak yang melakukannya? Yang jelas tempat berfikir tersebut pasti ramai dengan berbagai pertanyaan.  Dari segi filsafat manusia yang berfikir akan memikirkan apakah hidup ini? Bagaimanakah? Dan untuk apa? Ketiga pertanyaan tersebut akan selalu mendampingi hidup manusia normal. Pemikiran yang waras akan menanyakan aku dan semesta dari mana berasal? seseorang terlahir dari ibu, berlanjut pada nabi adam, tanah, dan dari apa lagi? Di tengah gurun kebingungan pasti muncul eksistensi Tuhan. Terkecuali golongan ateis dan materialisme maaf saja jika pemikiran mereka belum dapat dipahami. Yang jelas sebagian besar manusia mempercayai Tuhan mereka masing-masing. Termasuk penulis tidak sendiri masih belum mampu untuk meniadakan eksistensi Tuhan. 
Bagi manusia yang beriman seyogyanya mereka sadar pada apa yang mereka lakukan sehari-hari. Kembali pada puncak pertanyaan filsafat tadi! Untuk apa hidup saya? Untuk apa semesta ini? Sebenarnya apa sih yang Tuhan mau? Apakah saya dicipta untuk bermain dan bersenang-senang setelah itu menjadi debu? Apakah masih ada kelanjutan dari kematian? Maaf ini adalah pertanyaan umum. Dan rasanya perlu  diungkapkan bahwa penulis sendiri mempercayai kelanjutan dan tanggup jawab setelah mati. Hal ini diungkapkan demi tranparansi dan penemptan cara pandang agar pembaca mengenal dimana posisi penulis dalam pembahasan. 
Kontrasisi hidup selalu saja ada. Baik dan buruk, tinggi randah dan sebagainya. Lalu manakah yang menjadi tolak ukur umum bagi Tuhan? Jika dilihat dari seluruh pemikiran keagamaan di dunia, baik dan buruk selalu saja menjadi acuan pokok. Lalu apa yang baik itu? Dan yang buruk itu apa? Masing maisng agama mengajarkan hal itu. Dan tak perlu rasanya dijabarkan demi terjaganya batasan masalah.
Semua Tuhan menghendaki kebaikan. Tuahan Nabi Daud, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad semuanya menghendaki hal itu. Tuhan tidak ingin manusia bermasalah. Tuhan akan menghukum yang ingkar. Semua agama mengajarkan hal itu. Lalu apa hubungnnya dengan hidup? Tuhan, kehidupan, dan manusia! Ketiga variabel ini sangat esensial. Tuhan adalah pencipta, penguasa, pengatur dan semua sifat keTuhanan lain. Hidup adalah medan waktu yang dilewati oleh materi. Yang dimaksudkan disini adalah kehidupan dunia. Waktu yang dimaksud adalah medan sejak adanya kemampuan bernafas hingga kemampuan itu hilang. Manusia adalah sosok terunik dari kehidupan yang pernah Tuhan ciptakan. Manusia sadar dan berbicara. Pemikiran manusia sangat kompleks. Mansusia bahkan mampu menganalisa, dan membantah jika terjadi hal yang menyalahi rasio bahkan kepercayaannya. Manusia mampu merasakan sesuatu dan bukan hanya mengetahuinya. Loginya tidak hanya mampu menjawab satu tambah satu sama dengan dua. Aspek kontekstual sangat menetukan jawabanya. Keunikan ini tidak bisa dilakukan makhluk lain termasuk komputer.
Beruntunglah manusia yang menjalankan kehendak Tuhan. Mereka harus bersyukur pada posisi mereka. Dan sangat berbahaya manusia yang menyalahi aturan pencipta. Lambat laun keburukan perilaku akan membuahkan derita. Seluruh isi alam tidak mau dengan adanya kekacauan. Contoh kecilnya jika kulit pada batang pohon dibuang maka tadak akan ada lagi keteraturan. Rantai suplai air dan mineral terputus dan tak akan mencapai dapur fotosistesa. Demikian manusia yang tidak mau teratur dengan fitrah penciptaan, tunggulah derita kehancuran. Percaya atau tidak hal itu akan datang. Contohnya lagi seorang pencuri hanya menunggu tanggal main untuk dihajar masa. Semua penduduk kampung yang waras tidak akan mau perilaku mencuri dilakukan termasuk maling itu sendiri. tanyakan saja pada meraka yang menjadi pencuri. Semuanya rindu pada keindahan.
Loh judulnya syair imam nawawi, tapi mana? Maaf sebenarnya paragraf sebalumnya sudah menggambarkan separu bait pertama dari tiga baris lengakpnya. Jika ingin tahu teks aslinya bisa dilihat di laman pembukaan kitab riyadus-sholihin. Nah sekarang kita benar benar fokus dan persempit pembahasan pada bait puisi imam nawawi. 

Sungguh Tuhan memiliki hamba yang berperilaku cerdas
mereka tidak sama sekali mengagung-agungkan dunia bahkan mencampakannya
mereka sadar dengan hidup mereka saat memperhatikan dunia 
dunia akan mereka tinggalkan dan tak akan abadi
meraka mengumpamakan dunia sebagai ombak
dan untuk mengarunginya mereka selalu manaiki perahu kesholehan meraka.

Puisi ini diterjemahkan secara objektif berdasakan cara pendang penulis. Maaf saja bukan sok hebat dalam penyebutan kata penulis dari awal hingga akhir. Sekali lagi hal ini bertujuan agar jelas dimana posisi penulis dan dimana kesalahnya. Dan maaf juga Penulis   hanya bisa ngomong tanpa aksi. 
Redaksi pusisi imam sayafii sangat global. Siapa saja berpeluang menajadi hamba yang beruntung. Petani, dokter dan sebagainya bahkan seorang musisi. Tuhan menciptakan kehidupan dan mengtahui maksud penciptaan tersebut. Tuhan selalu membanggakan kejujuran, kebijaksanaan, pewarisan kebaikan, dan tanggung jawab.
Kehidupan adalah medan untuk berbuat kebaikan. Manusia ditutut bijaksana pada pilihannya. Diksi puisi lebih berfokus pada penolakan sikap  kecintaan mansuia terhadap dunia. Buat apa banyak benda jika hanya hanya dipajang? Apakah tidak lebih baik jika dinikmati bersama dan dibagikan pada yang lebih membutuhkan? Pada hakikatnya aset yang hanya diam bukanlah apa-apa di mata siapapun! Orang kaya mau kaya sendiri! Orang pintar mau menikmati ilmunya sendiri unutk kepentingan material saja. Sunggguh jauh sekali dari aspek dan hakikat perilaku sosial. Sejak dahulu memang selalu saja begitu. Sungguh sikap terlalu mencintai dan mendambakan materi dunia selalu saja mebutakan mata. Materi! Materi! Dan materi! Ketiganya cenderung membuat kabur pandangan. Bahaya cinta materi sangat fatal. Contohnya wanita cantik cenderung sanggup meluruhkan logika sehat. Pernahkan anda mencitai seseorang dan mangabaikan nasehat kebaikan dari orang tua? Oleh karena itu Tuhan mengutamakan akal dan nurani yang sehat diatas segalanya. 
 
Tidak masalah memiliki trliun dolar di kantong atau rekenig. Yang perlu dipikirkan apakah esensi uang tersebut? Apakah hanya modal senag-senang setelah itu mati? Atau untuk proyek-proyek kebaikian dan rehabilitasi sosial? Apakah prioritasnya hanya pada makanan anak dan minim pada sisi pendidikan? Terlalu mencintai kesenangan dan aset akan meruntuhkan zoon politicon. Aset hanya sebuah debu pada posisinya yang  jauh dari fungsionalitas kabajikan. 
Demikian dengan aset ilmu dan kompetensi. Selayakanya seorang musisi perlu menggunakan kemampuannya unutuk memuji dan menyenjung Tuhan. Para akuntan, pengrajin, dan sebagainya harus menggunakan kompetensi untuk memuliakan nama Tuhan. Begitulah hidup hakikatnya dicipta unutk nama Tuhan.

NB: Maafkanlah kesalahan redaksi! Dan maaf hanya bisa ngomong saja. Wokey sampai jumpa!

(Moh Ali Chaidar)

0 comments:

Posting Komentar