Catatan Em Saidi Dahlan: 'Menjelang Demo, Ahok Sowan ke Gus Dur'



Menjelang Demo, Ahok Sowan ke Gus Dur

‘Besok demo besa-besaran’. Kalimat ini yang mengganjal pikiran Pak Sakerah, tokoh Madura yang fenomenal itu, dan kedua rekannya. Semalam suntuk ia tidak bisa tidur, termasuk kedua rekannya yang setia menemani melekan-nya.
“Kalau gini caranya, kita perlu melibatkan orang pintar untuk mendiskusikan situasi besok. Perlu orang yang kasif, yang bisa membuka dan menutup tabir rahasia di alam yang tak menentu ini,” Pak Sakerah mengeluh kepada kedua rekannya.
Tapi yang menjadi tenpat keluh-kesah itu malah tidak paham arah kehendak Pak Sakerah. “Maksudmu apaan tuh Bang?” tanya Kamit ingin tahu.
“Kita perlu sowan ke Gus Dur.”
“Lalu?” mereka heran.
“Kita ajak Ahok untuk mendiskusikan persoalan yang membelitnya.”
“Gus Dur?” masih heran Kamit bertanya.
“Di Jombang?” sambung Komat.
“Iya.”
Kemudian mereka berimajiner, mengajak Ahok sowan ke Pasarean Gus Dur di Jombang.
“Assalamualaikum, Gus!” serempak keempat tokoh yang tidak saling kenal itu sowan ke Pasarean Gus Dur.
“Untuk kalian bertiga,” kata Gus Dur menunjuk Pak Sakerah, Komat dan Kamit, “Waalaikum salam.”
Mereka heran.
“Untukmu,” kata Gus Dur menunjuk wajah Ahok, “Alaikum!”
“Lo, kok beda jawab salamnya, Gus?” Ahok heran.
“Iya..beda lah.”
“Katanya minoritas dan mayoritas tidak ada bedanya, Gus!” Ahok masih heran.
“Iya beda-lah. Minoritas itu sedikit, dan mayoritas itu artinya lebih banyak. Kamu masuk yang minoritas, dan Sakerah itu yang mayoritas. Gitu saja kok repot!”
Keempat tamu Gus Dur tertawa lepas. Entah paham atau tidak dengan penjelasan Gus Dur, tapi yang jelas mereka ceria dengan situasi tersebut. Sepintas mereka lupa akan demo besar-besaran yang akan terjadi Jumat besok.
“bagaimana keadaan Gus Dur? Gus Dur sehat?” tanya Ahok sedikit basa-basi.
Wong sudah meninggal kok ditanya sehat! Gimana kamu Hok-hok. Kamu ya ndak ngerti-ngerti, membedakan mana yang sehat dan mana yang loro. Kamu toh harus tahu, mana yang masih urip, dan mana yang sudah wafat. Banyak ngomong aja kamu bisanya, ndak ngerti-ngerti mana yang benar dan mana yang salah!”
“Maksudku, Gus, pikiran Gus Dur masih sehat?”
“Iya, seperti dulu-lah.”
“Gus Dur sudah dengar rencana demonstrasi Jumat besok?” tanya Pak Sakerah.
“Iya lah.”
“Bagaimana pendapat Gus Dur?” tanya Ahok.
“Iya, ndak apa-apa lah. Memangnya kenapa?”
“Gus Dur setuju dengan demo besok hari Jumat?”
“Memangnya kamu mau melarang? Wong negara saja membolehkan kok! Itu bagian dari demokrasi, bukan menciderai demokrasi.”
“Bagaimana pendapat Gus Dur dengan kasus penistaan Alquran?” kali ini Kamit yang bertanya.
“Memangnya kenapa?”
“Saya menafsir Alquran Surat Al-Maidah, Gus. Lalu saya menghubungkannya dengan kegiatan para kiai yang menggembosi suara saya di Pilkada nanti. Bagaimana menurut Gus Dur?” tanya Ahok.
“Iya ndak apa-apa lah. Wong hanya menafsir.”
“Apakah tafsir saya salah, Gus?”
“Jangan-jangan, yang menafsir tafsirmu yang salah.”
“Kok?”
“Mufassir itu sama-sama mencari kebenaran dari aqli-naqli-nya dengan menafsir Alquran. Kebenaran yang hakiki itu hanya ada pada Allah azza wa jalla. Sedangkan kebenaran tafsir Mufassirin itu akan diuji oleh zaman. Tafsir al-Jalalain yang ditulis oleh Imam Jalalain akan terus diuji oleh zaman. Tafsir Showi dan Munir yang ditulis Imam Nabawi al-Banteni, juga akan diuji oleh zaman. Tafsir Ibnu Katsier juga akan terus diuji oleh zaman. Tafsir Al-Azhar tulisan Buya Hamka, juga masih diuji oleh zaman. Termasuk Tafsir al-Mishbah karangan Quraish Shihab kebenarannya akan terus diuji oleh zaman. Dan tafsir lainnya, termasuk tafsirmu, Hok!”
“Maksud Gus Dur?” kejar Ahok.
“Iya.. kamu gak akan ngerti Hok aku ngomong apa. Wong kamu gak pernah ngaji Alquran. Bisanya kamu hanya ngomong seenak cangkem-mu!”
Ahok terkikik.
“Menurut intelijen yang layak dipercaya, demo besok Jumat akan terjadi sungguh, Gus!” kata Ahok lagi. “Bagaimana ini, Gus?”
“Lo, kamu tahu jalur demonya?”
“Iya, Gus,” Ahok bersemangat. “Mereka berkumpul di Istiqlal melaksanakan shalat Jumat, lalu melakukan aksi damai ke Istana Negara. Ribuan, bahkan dimungkinkan jutaan muslimin melakukan aksi demo, Gus.”
“Lo, kamu kok bingung, Hok. Mereka demo di Istiqlal, lalu ke Istana Negara. Itu artinya, mereka tidak melakukan demo di rumahmu, ‘kan?”
“Benar, Gus.”
“Lo, gitu saja kok bingung, Hok?” Gus Dur ikut bersemangat menanggapi semangat Ahok. “Kamu tidur saja yang pulas di rumahmu. Wong yang didemo itu Jokowidodo kok! Bukan kamu, Hok! Buktinya, mereka ke Istana Negara. Bukan ke rumahmu. Iya, ‘kan?”
Keempat orang tamu Gus Dur itu tersenyum.
“Mereka memaksa saya diproses melalui jalur hukum, Gus!”
“Iya, ndak apa-apa-lah..”
“Lalu diproses di Pengadilan, Gus!”
“Iya, aku setuju saja…”
“Lo, kok?”
“Kamu musti diproses oleh Polisi Syariah. Lalu diajukan pada sidang Pengadilan Syariah….”
“Gus Dur setuju?”
“Aku setuju saja…” kata Gus Dur tegas. “Tapi apa ada Polisi dan Pengadilan Syariah di Jakarta? Adanya kan hanya di Aceh!”
Ahok melongo heran. Lalu manggut-manggut.
“Bagaimana jika Gus Dur sebagai presiden menghadapi demo besar-besaran sebagaimana rencana Jumat besok?” kali ini Kamit yang bertanya.
“Iya ndak apa-apa, akan kuhadapi. Sampean semua tahu, di awal-awal saya jadi presiden didemo abang-abang becak seantero Jakarta. Mereka protes karena becak dilarang masuk Bundaran HI. Ketika demo mulai panas, dan tuntutan mereka bertubi-tubi dengan suasana panas, saya hanya bilang: ‘Salahnya sendiri jadi tukang becak!’. Akhirnya mereka mundur teratur dari Istana.”
“Kok bisa, Gus?” Ahok heran.
“Iya toh. Wong mereka santri saya semua kok!”
“Ha?” senyum mereka bertengger.
“Malah mereka banyak yang dari Madura.”
“Masa, Gus?” Pak Sakerah dan kedua orang rekannya melongo. Benarkah, tanyanya dalam hati.
Perlu diingat, belakangan ini Ahok sering didemo oleh masyarakat Betawi. Digertak Polisi bukannya pendemo mundur, malah Ahok sendiri yang mundur terbirit-birit. Malah kemarin lalu Ahok harus segera diamankan di Kantor Polsek gara-gara ketika blusukan ditolak warga.
“Di awal-awal jadi presiden, Gus Dur juga didemo mahasiswa besar-besaran di Istana Negara. Bagaimana itu Gus? Apa Gus Dur juga menghadapi mereka?” Ahok ingin tahu.
“Iya.”
“Konon sempat panas, Gus.” ujar Pak Sakerah.
“Iya, ndak apa-apa. Mau panas kek, mau dingin kek. Mau joget, mau mencibir saya, terserah. Mau mengacungkan tinjunya kek, siapa peduli? Bahkan katanya ada yang memelototi saya seakan hendak menelan, bagai singa, iya ndak apa-apa.”
“Lo, kok?” mereka heran. “Gus Dur ndak marah?” sambung Kamit.
“Iya, wong saya ndak bisa lihat mereka kok!”
“Ha?” mereka terpingkal-pingkal.
Suasana di Pasarean Gus Dur malam itu benar-benar cair.
“Kembali pada topik awal, Gus. Untuk hari Jumat besok. Jakarta akan dipenuhi jutaan manusia berdemo. Katanya aksi damai, tapi gampang sekali anarkhis,” ujar Ahok.
“Iya, ndak apa-apa Hok!” kata Gus Dur santai, “Itu hak mereka, kok!”
“Lalu, bagaimana Gus, jika mereka anarkhis?”
“Makanya, Hok, kalau sikatan  itu setelah makan, bukan sebelum makan. Kapan kamu sikatan?”
“Sebelum makan, Gus,” tegas Ahok menjawab.
“Lha, itu…”
Keempat orang tamu Gus Dur tertawa lepas.
“Bang, bangun, Bang. Sudah shubuh!” Komat membangunkan Pak Sakerah. “Sekarang hari Kamis. Besok Jumat, dan demo akan berlangsung!”
“Ha?” Pak Sakerah tersentak. “Terserah!”
(Em Saidi Dahlan, endydahlan@ymail.com 03112016)

0 comments:

Posting Komentar