Harjad Pamekasan Penuh Permasalahan. Pengamat: Pemkab Pamekasan amatiran!

Suasana malam hari jadi Pamekasan ke 486. (foto: Marul/detak.com)
-Hari jadi ke-486 Kabupaten Pamekasan, tengah dalam kecaman. Pasalnya kegiatan yang dimotif dengan pemasangan tenda disekitar alun-alun arek lancor, mendapat sorotan publik dari sejumlah pihak. Lantaran banyak tidak jelasnya kegiatan yang tengah jalaninya. Utamanya tentang hiburan.

Dari itu, Laskar Pembela Islam (LPI) Kabupaten Pamekasan mengecam untuk tidak dilanjutkan panggung hiburan tersebut yang terkesan tidak mengantongi izin.

"Kita juga sama-sama taat aturan. Disini hiburan tidak seenaknya mentas, apalagi tidak mengantongi izi. Kami tegaskan kepada pihak kepolisian untuk mengambil langkah, demi terjaganya hari jadi kabupaten pamekasan," terang Ketua LPI Abdul Aziz saat ditemui dilapangan, Kamis (27/10/2016).

Tidak hanya itu, tampak kegiatan hari jadi tersebut dalam kondisi ketidaksejalanan antara pemerintah ekskutif dengan pihak penegak hukum kepolisian. Sebut saja, Dinas Pemuda Olah Raga, dan Kebudayaan (Disporabud) Kabupaten Pamekasan, kebingungan mengurus surat perizinan kepada pihak kepolisian resort (Polres) Pamekasan.

"Pihak panitia sudah minta izin kepada Polres Pamekasan terkait penyelenggaraan acara HUT tahunan ini. Kami kan hanya menjaga aturan ketertiban yang dijalani oleh kepolisian. Iya surat itu berupa pernyataan surat keramaian publik, kurang lebih selama tujuh hari," ungkap Kepala Disporabud Kabupaten Pamekasan, Mohamad.

Dari itu, Mohamad mengira peraturannya sama seperti pada tahun sebelumnya. Artinya perizinannya dilakukan secara global. Nyatanya, ada peraturan baru oleh Polres Pamekasan yakni merubah dengan meminta perizinannya setiap aitem kegiatan.

Kesemrawutan tidak hanya tengah dialami oleh pihak ekskutif. Namun pedagang kaki lima (PKL) dari berbagai penjuru yang sudah melakukan heregistrasi sebelumnya juga diabaikan. Mirisnya, setiap PKL sudah membayar uang stand sebesar Rp300-Rp400 ribu. Hal itu dihitung Rp50 ribu per hari."Karena kami disini, mau pasang stand selama empat hari, iya kami bayar Rp400 ribu. Tapi teman heregistrasinya bermcam-macam, ada yang cuma tiga hari, empat hari, bahkan ada yang sampai lima hari," ketus Yudi Ismanto salah seorang PKL asal Sidoarjo.

Sementara itu, pihak event organizer (EO) pameran pembangunan Gogo mengaku sudah mempersiapkan kegiatan tersebut jauh hari sebelumnya. Tenda yang dipersiapkan hanya 100 tenda. Itu pun dari salah satu sponsor rokok.

"Iya kami keterbatasan tenda. Kami akan upayakan untuk menemukan ketersedian tenda bagi PKL yang tidak punya jatah tempat," terang Gogo.

Berdasarkan informasi dilapangan, hari jadi ke-486 Kabupaten Pamekasan, tidak sesantun pada kegiatan ditahun sebelumnya. Sebab banyak masyarakat menilai pameran di sekitar arek-lancor terkesan glamor dan semrawut. Apalagi saat lajunya kendaraan melewati dijalur alun-alun, yang dirasakan masyarakat tidak ada petugas yang mengawal, sehingga yang terjadi kemacetan sepanjang jalan.
Sementara itu, Pengamat Brirokrasi Kabupaten pamekasan, M.Alfian, SH, MH berpendapat, bahwa terhadap semua permasalah di hari jadi Pamekasan tersebut menandakan bahwa Pemerintah Kabupaten pamekasan Amatiran dalam melaksanakan hari bjadi tersebut.
"Menurut saya satu saja, Pemrintah kabupaten Pamekasan Amatiran alias tidak profesional dalam permasalan ini. Ini cambuk bagi Bupati pamekasan".

(Ahmad Marul Saleh/Abdussalam Syah, H.Nasir Abdullah/detak.com)

0 comments:

Posting Komentar