Headlines News :
Home » » "Esai" Gaya Modis Tapi Tak Agamis

"Esai" Gaya Modis Tapi Tak Agamis

Written By Unknown on Selasa, 24 Mei 2016 | 08.01

Di tulis Oleh Sitti Mawardah Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Jurusan Tarbiyah STAIN Pamekasan

Perjalanan waktu merupakan pertumbuhan zaman dari setiap fase ke fase, dari zaman yang semakin tumbuh dan berkembang menyuguhkan berbagai perubahan dari berbagai aspek, entah dari dunia perkembangan pendidikan yang semakin maju, perkembangan IT yang semakin canggih, dan termasuk  pula perkembangan gaya dan model busana yang semakin trend, selayaknya globalisasi yang menghadirkan trobosan terbaru yang setiap masa terus berevolusi.

Di zaman yang seakan serba terbalik ini, banyak hal yang menjadi pemicu untuk di jadikan topik perbincangan seputar Islam, antara anjuran Islam dengan trendi kekinian yang mana akan melahirkan diferensial yang kontras. 

Aurat para wanita yang seharusnya di jaga dan ditutupi malah berbading arah dengan para lelaki sekarang yang batas auratnya tak seberapa, pakaian para wanita yang seharusnya tertutup malah di modif seperti halnya pakaian yang lupa jahitan atau kurang kain, jsutru pakain para lelaki yang jauh lebih resmi. Dunia sudah mengalami fase pergeseran dan penurunan moral, dan Fhasioneble yang  merupakan trendi kekinian yang menjamur di berbagai lapisan masyarakat yang melanda para kaum hawa masa kini, andaikan di kalkulasi dalam bentuk angka mungkin berkisar 30:100 persen saja kaum wanita yang mengikuti anjuran berpakaian syar'i. 

Modis atau bahasa lainnya  fashionable sepertinya sudah seperti kebutuhan sekunder bagi para kaum hawa masa kini. Namun gaya modis para wanita sekarang layaknya kolaborasi dari berbagai stylish yang memadukan corak dan gaya berpakaian yang sedikit kontradiksi dengan islam. 

Kronologi atau status yang di sandang entah notabeninya santri atau non santri, dari keluarga agamis atau tidak  bukanlah tolak ukur baik tidaknya cara berpakaian para wanita sekarang, karena pada dasarnya lingkungan dan pergaulanlah yang berpotensi membentuk mereka bagaimana berperilaku, termasuk berpakaian.

Karena alasan tidak mau ketinggalan, atau tidak mau di bilang culun karna masih menganut gaya pakaian klasik, maka memilih beralih pada aliran modernism yakni gaya modis modern dengan bawahan rok ketat, baju yang sedikit memperlihatkan lekuk tubuh, dan gaya hijab yang tak kalah modern, sebatas leher saja dan tidak menutupi dada, atau yang lebih nyentrin dengan bawahan jens ketat, Inilah "Gaya Modis Tapi Tak Agamis". 

Padahal kecantikan para wanita pada hakikatnya bukanlah bagaimana ia berpakaian dan dan bukan bagaimana ia modis mengikuti trendi masa kini, melainkan bagaimana ia bisa menjaga kohormatannya dan aurauratnya apalagi sampai menjadi konsumsi publik. Kecantikan jauhariyah wanita itu tercermin dari dalam. 

(Mawar Azroq)

Share this post :

Posting Komentar