Headlines News :
Home » » Terkait Kisruh Kios Pasar, Pengacara Agus Mundur.

Terkait Kisruh Kios Pasar, Pengacara Agus Mundur.

Written By Unknown on Selasa, 06 Oktober 2015 | 18.16

Kios yang diperebutkan antara Agus Cs dengan B. Ya (foto: detak.com).

Pamekasan, detak.com.

Sengketa kepemilikan hak pakai kios di pasar 17 Pamekasan rupanya berakhir anti klimaks. Pengacara Agus sugeng Santoso, M. Alfian, SH, MH mengundurkan diri.

Pengunduran diri Alfian disampaikan langsung oleh Alfian melalui ponselnya tadi siang, Selasa (6/10/2015). Menurut Alfian mengunduran dirinya diakibatkan oleh ketidakterbukaan Agus dalam menyampaikan hal yang sebenarnya terjadi antara Kliennya, Agus dengan Buk Ya yang merupakan Ibu tiri dari Agus.

"Jadi dalam UU Advokat No 18 2003 jelas disebutkan, bahwa selaku Pemberi Kuasa Agus harus jujur mengatakan yang sebenarnya kepada Penerima Kuasa atau Penasehat hukumnya, nah Si Agus ini tidak" kata Alfian melalui selulernya.

Diantara kekurang terbukaan Agus diantaranya, sambung Pengacara kelahiran Sampang ini adalah bahwa Buk Ya dikabarkan Agus tidak dinikahi secara resmi oleh bapaknya Agus, Soekarsan. "Faktanya, si Buk Ya ini ternyata dinikahi secara resmi oleh Soekarsan pada tahun 2003. Dan dibuktikan oleh Buk Ya melalui surat nikah"

"Fakta lain adalah, ternyata kepemilikan kios yang dimiliki berdua antara soekarsan dan Buk Ya merupakan jerih payah berdua sejak tahun 2003. Pada tahun 2007 baru dari dinas memberikan kios untuk disewa pakai oleh mereka berdua atas nama Soekarsan" imbuh Alfian.

Pengacara lulusan PKPA Unair 2011 ini juga menjelaskan, bahwa dalam klausul kontrak sewa pakai antara pihak Soekarsan dan pihak pemda (Disperindag) salah satu bunyinya adalah tidak bisa diwariskan. "Jadi hal tersebut secara hukum lemah untuk digugat. Baik Pemda dalam hal ini Disperindag maupun Buk Ya sendiri"

"Makanya, saya sebagai PH (Penasehat Hukum) tidak boleh membela klien yang tidak ada pelanggaran hukumnya" pungkas Alfian.

Ditempat terpisah, M. Ponco, selaku Kabid perdagangan Disperindag Pemda Kabupaten Pamekasan menegaskan, bahwa aturan yang pakai antara pihak penerima mamfaat dalam hal ini penyewa adalah klausul yang tidak bisa diwariskan. "Jadi kalau atas nama sudah menunggal atau mati maka siapapun ahli warisnya tidak serta merta sebagai penerus sewa pakainya. Itu dikembalikan kepada Pemda" kata Ponco suatu ketika dikantornya, jalan Jokotole Pamekasan.

"Nah, khusus yang kios tersebut, Soekarsan setelah meninggal bukan serta merta anaknya atau ahli warisnya sebagai penerus. Malah buk Ya ini lebih berhak karena karena Buk Ya ini yang sering berjualan dengan pihak almarhum Soekarsan" jelas Ponco.

(yan/det/red)
Share this post :

Posting Komentar