Headlines News :
Home » » Suasana Hikmad Sholat Id di Masjid Tua 'Sumber Laga'

Suasana Hikmad Sholat Id di Masjid Tua 'Sumber Laga'

Written By Unknown on Kamis, 24 September 2015 | 14.40

Suasana sholat Idul Adha di Mesjid Sumber Laga- Tagangser Laok- Waru- Pamekasan.

MADURA, Detak.com

Suasana hikmad sangat terasa pada saat Sholat idul adha dilaksanakan di salah satu masjid tertua di Kecamatan Waru yaitu masjid Sumber Laga.

Masjid yang terletak didusun tengah 1 desa Tagangser Laok ini berada disebelah utara Ponpes Al-mardliyyah - Tagangser Laok ini memang tergolong masjid yang sangat tua. Konon masjid tersebut sudah dibangun sejak sebelum Indonesia merdeka.

Informasi lain bahwa masjid tersebut dibangun oleh ulama' kharismatik pada saat itu yaitu mendiang KH. Mardliyyan Abdul mun'im. KH Mardliyyan, sapaan akrab guru dari Mahfud MD itu. Untuk membangun masjid yang bisa menampung jamaah hingga 750 jemaah ini, mendiang KH. Mardliyyan mendapat tantangan yang sangat besar dari orang-orang sekitar.

Penentangan pembangunan tersebut karena disekitar masjid bercat putih karena merupakan tempat arena sabung ayam. Atau biasa disebut 'ngadduh ajem'.

"Ditempat tersebut dulu memang daerah tempat sabung ayam" kenang H.Sa'id, tangan kanan KH. Mardliyyan yang sekarang masih hidup.

"Karena disana tempat sabung ayam maka banyak warga disini dulu masyarakatnya terkenal dengan sabung ayamnya. Dan yang nyabung kesini bukan hanya disini saja. Malah ada yang dari sampang" kata H. Said mengenang puluhan tahun lalu.

namun berkat kegigihan KH. Mardliyyan, masjid tersebut bisa dibangun kokoh sampai saat ini. "Malah pada saat itu, ada seorang bajingan (preman adu ayam) yang adu sakti dengan pak kiai (KH. Mardliyyan, dengan menantang adu sabung ayam. Siapa pemenangnya maka salah satu yang kalah harus menuruti permintaan yang menang itu" ujar pria sepuh yang sudah berumur sekitar 82 tahun ini.

Nah, singkat cerita, kata H.Sa'id, tantangan itu diterima oleh KH. Mardliyyan dan kiai sebagai pemenang dalam tantangan itu.

"Jadi ayamnya kiai itu menang terus. Tidak pernah kalah. Padahal beliau tidak pernah ke lokasi sabung" lirihnya.

Setalah itu, sambungnya, para bajuingan-bajingan didesa mau berguru ke kiai untuk mencari tau bagaimana supaya ayam-ayam jagonya bisa menang dalam pertarungan pakai taji tersebut.

"Pada saat bajingan-bajingan acabis (sowan) ke beliau (KH. Mardliyyan), kiai mebrikan persyaratan agar ayam-ayamnya bisa menang yaitu ada jampi-jampinya. Dan jampi-jampinya ada di sholat" beber H. Sa'id menirukan ucapak KH. Mardliyyan.

Setelah itu, para bajingan-bajingan desa mau sholat hanya untuk ayamnya bisa menang waktu diadu.

"Setelah itu, lambat laun para bajingan malah senang Sholat. Karena sudah gak ada waktu untuk nyabung (adu ayam)" kata H. Sa'id.

"Karena orang-orang pada Sholat, maka dibangunlah mesjid tersebut. Dan yang bangun ya bajingan-bajingan itu tadi" tambahnya.

Kembali ke Sholat Idul adha. Penyelenggaraan Idul adha di masjid Sumber Laga ini sangat terasa hikmadnya. Mulai dari cara-cara tradisional yang tidak dihilangkan sejak mendiang KH. Mardliyyan. Dimulai dari takbir yang masih khas, bacaan khotbah yang masih fersi lama (arab) sampai zikir-zikir yang tetap dijaga keasliannya sejak sang  mendiang mendirikan masjid.

Oleh.

M. Alfian Al-Muhdhor.
Share this post :

Posting Komentar