Headlines News :
Home » » Membela Rizal Ramli, Ronie Rusli: Faisal Basri Salah Asumsi

Membela Rizal Ramli, Ronie Rusli: Faisal Basri Salah Asumsi

Written By Unknown on Selasa, 08 September 2015 | 20.03

JAKARTA - Prof Ronnie Rusli membela Menko Maritim Rizal Ramli soal pula listrik prabayar PT PLN. Menurut analis ekonomi industri ini, Faisal Basri salah asumsi sehingga yang benar adalah Rizal Ramli.
"Faisal Basri is wrong, Faisal Basri salah. Sistem pra bayar, kontrol utamanya ada pada kode-kode di slip pulsa dan tidak bisa diketahui jumlah pemakaiannya," kata Ronnie Rusli, dosen Universitas Indonesia, di Jakarta Selasa (8/9).
Ronnie mengatakan, pulsa prabayar PLN,  bukan seperti pada meteran pelanggan lagi. Sebagai ilustrasi ketika pelanggan membayar Rp100 ribu, misalnya, dan hanya dapat menikmati listrik senilai Rp 95 ribu, kontrol ada pada konfigurasi kode di slip pulsa.
"Pelanggan harus pasrah saja ketika ia hanya menikmati listrik seharga Rp 95 ribu dan bukan Rp100 ribu," jelasnya.
Menurut PLN, bagi pengguna pulsa listrik prabayar, memang ada biaya yang harus dikeluarkan, yaitu biaya administrasi bank sekitar Rp1.600. Yang menjadi masalah utama, atas dasar apa bank mengenakan tarif sejumlah itu? Kalau tarif kWh saja diatur oleh negara, kenapa tarif administrasi bank itu tidak diatur oleh negara?
"Konsumen hanya di-fait-accomply untuk membayar sejumlah tarif administrasi bank berdasarkan kesepakatan antara pihak bank dan PLN," tukasnya.
Ini menjadi masalah besar ketika pelanggan listrik adalah orang miskin biasanya membeli pulsa listrik secara eceran dan beberapa kali, jadi orang miskin dikenakan biaya administrasi bank beberapa kali, sedangkan orang kaya yang bisa membeli pulsa listrik langsung untuk kebutuhan satu bulan dan hanya membayar biaya administrasi bank 1 kali.
Sementara itu, orang miskin akan membeli pulsa listrik setiap minggu. Akhirnya, orang miskin dikenakan biaya administrasi bank 4 kali dari orang kaya.
Permasalahan ke dua, pelanggan tidak pernah tahu berapa kWh yang layak diterimanya dari jumlah yang dibelinya di slip pulsa. Ia hanya tahu bahwa ia harus membeli lagi ketika ada bunyi sinyal dari meteran listriknya.
Menurut Ronnie, posisi bargaining pelanggan pada pulsa listrik pra bayar, lemah. Pelanggan hanya bisa pasrah atas estimasi jumlah kWh yang diberikan oleh slip pulsa,  yang dia tidak tahu jumah pemakaiannya.
Karena, ketika penyedia jasa mengubah tarif melalui konfigurasi kode pada slip bayar, pelanggan berada pada posisi yang lemah dan menerima begitu saja.
Sistem prabayar ini rentan bagi orang miskin ketika tarif listrik berubah. Misalnya Rp 100 ribu saat ini cukup untuk membeli 71 kWh. Kemudian, ada kebijakan perubahan tarif dari pemerintah/PLN mulai bulan depan Rp100 ribu hanya cukup untuk membeli 65 kWh.
Karena kontrol tarif bukan lagi di alat meteran, tetapi pada kode-kode di pulsa, orang kaya bisa menimbun dengan membeli pulsa sebanyak-banyaknya dan baru dipakai kemudian.
Artinya, orang kaya bisa membayar dengan tarif lama di bulan berikutnya, sementara itu orang miskin akan menggunakan listrik dengan tarif baru.
Siapa yang menetapkan tarif administrasi bank sejumlah itu? Kenapa tarifnya sejumlah itu? Siapa pula yang diuntungkan dari biaya administrasi itu? Selama ini, pendapatan dari administrasi bank ini adalah pasar gelap (black market) dan menguntungkan pihak-pihak tertentu saja.
"Kita tidak tahu bahwa biaya administrasi bank itu sudah memperkaya korporasi provider sistem data exchange bank, yang kita pun tidak mengenal siapa mereka itu dan tidak jelas proses seleksinya. Inilah sebenarnya yang dimaksud sebagai mafia pulsa," pungkas Ronnie Rusli. (dd)
Share this post :

Posting Komentar