Headlines News :
Home » » Korban (yang) Berqurban Catatan : Em Saidi Dahlan

Korban (yang) Berqurban Catatan : Em Saidi Dahlan

Written By Unknown on Rabu, 23 September 2015 | 08.45

Korban (yang) Berqurban
Menjelang akhir pekan ini, berita yang paling hangat di mana-mana adalah 'qurban' atau mungkin 'korban'. Sebagaimana diketahui banyak orang, khususnya pemeluk Islam, qurban adalah serimoni keagamaan sebagai identitas penyerahan diri makhluk kepada Sang Khalik. Serimoni itu dilaksanakan pada Idul Adha dan berlanjut pada tiga hari Tasyrik.
Pak Sakerah tahu betul makna itu. Sebab di Madura, orang berqurban memang benar-benar berkorban. Banyak di antara mereka yang berqurban bukan karena  harta berlimpah. Malah, asal Anda tahu saja, mereka menabung bertahun-tahun  untuk mewujudkan identitas serimoni penyerahan diri itu.
Terlepas dari itu, saya di-BBM Pak Sakerah bahwa TK PGRI Kalianget akan berqurban. Sebentar kemudian sehabis membaca BBM Pak Sakerah, Kepala TK itu menghubungi saya lewat selulernya. Dalam soal seperti ini, saya pasti diberi tahu karena saya sebagai ketua Yayasan yang menaungi sekitar 40-an TK/PAUD, SMA dan SMP PGRI—yayasan pendidikan PGRI,. Sayangnya, saya sendiri yang menurut Pak Sakerah jarang tampil di muka publik. Entah publik yang mana. Tapi begitulah anggapan sohib saya yang satu itu.
Siapa saja yang berqurban? Berapa ekor siapa yang akan disembelih pada hari suci itu? Pembagiannya agar benar-benar sesuai, dst, dst. Gelagapan Kepala TK PGRI itu untuk menjawab pertanyaan saya. "Ini sapi hasil sumbangan Pak," katanya agak merendah. "Qurban sumbangan," tambahnya lirih.
Ente pasti tahu, penyembelihan qurban itu tidak sama dengan penyembelihan ternak biasa. Ada syarat syar'i yang harus dipenuhi. Misalnya, harus berupa ternah, berusia sesuai dengan ketentuan, tidak cacat, tidak sedang kepemilikan pihak lain dan disembelih setelah shalat 'id sampai hari ketiga Tasyrik. Maka, qurban itu diniatkan untuk tujuh orang, bukan seratus bahkan seribu orang. Jika uang yang dibelikan ternak dari hasil sumbangan, itu namanya bukan qurban. Tapi sedekah daging secara bersama-sama.  Maka BBM Pak Sakerah menulisnya  begini: "Di sekolah Bapak ada rum-duruman daging sapi." Arti dari rum-duruman itu adalah sumbangan bersama dan hasilnya dibagi bersama kepada mereka yang menyumbang.
Saya masih termagu memegang seluler. Tapi Kepala TK PGRI itu melanjutkan penjelasannya, "Ini hanya pembelajaran saja Pak. Saya tahu, qurban itu bukan hasil sumbangan ratusan orang. Tapi siswa TK perlu tahu proses ini, agar senang bersedekah!"
Saya mafhum dengan alasan Kepala TK PGRI itu. Tapi yang tak habis pikir, di kantor-kantor yang pegawainya semuanya sudah aqil-baligh, kok malah niru-niru TK yang saya bina itu. Sumbangan, lalu dibelikan sapi, lalu dibagi bersama dan selebihnya dibagi ke masyarakat sekitar. Itu namanya qurban modern, yang tidak dikenal dalam syar'i. Jika diniatkan untuk qurban, saya yakin meski salah pahalanya tidak langsung hilang, tapi mendapatkan pahala sedekah. Bukan pahala qurban.
Berangkat dari fenomena itu, saya bersama Pak Sakerah mengupasnya dalam bincang-bincang santai. Jangan-jangan, mereka yang berqurban itu adalah mereka yang menjadi korban. Misalnya, untuk setor muka ke pejabat atasnya, misalnya kalau camat setor muka ke bupati, melaksanakan penyembelihan qurban dengan mengorbankan anak buahnya agar berkorban. Mereka, pegawai bawahan itu, menjadi korban politik di atasnya agar mendapatkan kondite penilaian yang bagus. Seperti anak TK yang menjadi korban pembelajaran sehingga harus sumbangan membeli hewan qurban.
Anda barangkali setuju, kerapan sapi dengan kekerasan itu, salah satu korban arogansi manusia terhadap hewan ternak. Sapi menjadi korban kegilaan manusia yang seringkali 'tak terbatas' itu.  Juga aduan sapi di beberapa daerah di Indonesia, hampir semuanya berwujud penyiksaan. Hanya saja mungkin berbeda dengan sapi yang dihias, dan jalannya bak penganten, makan dan minumnya dijaga" "Cangke'an" misalnya, atau sejenisnya.
Di akhir pekan ini, korban yang 'terpaksa' berqurban memang merajalela. Di tingkat atas sana, misalnya, pemenang Pemilu gagal menjadi Ketua DPR RI, dan dus menjadi korban dari arogansi kelompok. Tapi tidak apa-apa, toh itu tidak diatur di syar'i, tidak seperti qurban hasil sumbangan para korban pejabat di atasnya. Tapi yang jelas, pengorbanan mereka adalah bentuk penyerahan diri kepada Allah, bahwa mereka tidak memiliki kuasa. Tapi bukan berarti kuasa Tuhan itu diganti oleh mereka yang memiliki kekuasaan.  Itu saja.* Em Saidi Dahlan
Share this post :

Posting Komentar