Headlines News :
Home » » Catatan Em Saidi Dahlan : "Orang Indonesia Miskin Rasa Malu"

Catatan Em Saidi Dahlan : "Orang Indonesia Miskin Rasa Malu"

Written By Unknown on Jumat, 07 Agustus 2015 | 06.01

Orang Indonesia Miskin Rasa Malu
 
Catatan Em Saidi Dahlan
Orang Indonesia Miskin Rasa Malu—ini hanya pendapat Pak Sakerah dalam sebuah diskusi kecil di warung kopi—tidak punya rasa 'malu'. Maka mafhum jika anak Pak Sakerah yang bungsu itu berteriak senang: "Malu aku jadi orang Indonesia," menyentil judul puisi Taufik Ismail, menjadi menarik dibincangkan. Meskipun kemudian guru di sekolahnya sebal dan mengusir keras si bungsu tadi, "Silakan kamu cari negeri lain!"
kesehariannya dalam sepekan ini Pak Sakerah, tokoh yang baru dihadirkan dalam tulisan ini, istiqomah di depan televisi. Amatannya pada berita yang tengah populer. Dadanya sesak oleh berita yang menurutnya memiskinkan rakyat Indonesia. "Ada tokoh muda yang penuh percaya diri tidak merasa nilep uang negara. Malah tangannya melambai-lambai di layar televisi. Memalukan!" gerutu Pak Sakerah.
"Siapa yang Pak Sakerah maksud?" tanya Pak Komat.
"Kamu gak lihat tivi toh?"
Pak Komat menggeleng.
Menurut Pak Sakerah, ada tokoh yang dulu dianggap reformis, malah melacurkan diri demi Pilkada. "Dulu pantang mundur memperjuangkan Pilkada langsung, eh... kini malah pantang maju memperjuangkan Pilkada tidak langsung. Yopo iki, di layar kaca orang ini melambaikan tangannya penuh kemenangan."
"Kalau yang ini siapa orangnya, Pak Sakerah?" kali ini Pak Kamit yang menanyakan.
"Kamu gak lihat tivi toh?" Pak Kamit dan rekannya menggeleng.
Ada lagi, menurut Pak Sakerah, seorang gubernur yang tiba-tiba ketangkap tangan KPK ketika transaksi pembebasan lahan. Dan ini masih mujur. Coba pas lagi transaksi ketangkap basah, bagaimana dengan nasib uang yang miliaran itu? Apa tidak rusak karena ulah KPK yang nangkapnya basah-basahan? Ada suap di situ, dan ada keringat rakyat menetes di situ.
Lebih menarik lagi, kata Pak Sakerah, di meja persidangan hakim-hakim yang didapuk sebagai wakil Tuhan, agar dipuji banyak orang, memvonis perkara tidak dengan nuraninya. Jaksa juga, nuntut terdakwa dengan belasan tahun penjara tanpa memperhatikan bukti-bukti di persidangan.
"Tokoh-tokoh yang kumaksud tadi melambai-lambaikan tangannya di layar kaca. Tersenyum sumringah, penuh kemenangan. Padahal perilaku mereka tengah memiskinkan rakyat Indonesia," kata Pak Sakerah berapi-api.
"Mereka itu, siapa yang dimaksud Pak Sakerah?" tanya Pak Komat.
"Kamu gak lihat tivi toh?"
"Tidak," sahut Pak Komat dan Pak Kamit tegas, "jika aku nonton tivi, aku malah malas kerja," sambung Pak Kamit.
"Lho kok?"
"Sebab aku akan menjadi kaya jika nyontoh perilaku mereka. Iya toh Pak?" sahut Pak Kamit.
"Sayangnya, aku juga tidak punya rasa malu seperti mereka, Pak Sakerah!" celetuk Pak Komat.
"Lho kok?" wajah Pak Sakerah memerah, menahan marah. "Apa maksudmu?"
"Aku tidak merasa malu mbecak, ngayuh kesana-kemari dengan pendapatan sesuap nasi."
"Itu beda, Cong!" kata Pak Sakerah terkikik, "Sayangnya kalian taretan dibi', coba orang lain," sambungnya dengan wajah tersenyum.
Mereka cekikikan tanpa rasa malu. Padahal kopi yang mereka seruput pagi itu masih ngutang. Em Saidi Dahlan (Sumenep, 28/9/2014)
Share this post :

Posting Komentar