Warga Arjasa Keluhkan Listrik Sering Mati


Sumenep-- Warga pulau Arjasa mengaku kecewa dengan keberadaan penerangan arus listrik yang diatur tiga hari nyala dan tiga hari padam. Aturan konyol ini tanpa ada pemberitahuan sebelumnya dari PLN. "Saya sangat kecewa mas dengan model seperti ini," tutur Hamsani salah seorang warga Arjasa kepada media ini. Seringnya listrik mati, menurut Hamsani, juga mendorong tingkat kriminalitas di pulau kangean.

Juhri, Ketua KWRI Sumenep, mengaku kesal dengan seringnya listrik mati yang kenyataannya tiga hari hidup dan tiga hari mati. Menurut Juhri, pengaturan aliran Listrik seperti itu jelas membuat aktivitas sering terganggu. "Kadang-kadang, kita merasa kesal atas perlakuan ini kok tiba-tiba mati gak ada pemberitahuan," ujarnya kepada media ini, Jumat malam (3/4). "Padahal dalam Undang Undang No 30 Tahun 2009, tentang ketenaga lisrtrikan, dengan tegas mengamanatkan aliran listrik harus sampai ke masyarakat dengan lancar dan baik." Pungkas Juhri yang juga berprofesi sebagai wartawan media cetak.

Menurut Juhri, yang lebih menyakitkan lagi sewaktu Komisi B DPRD Sumenep melakukan kunjungan ke pulau Arjasa, sang Kepala PLN Arjasa malah melrikan diri ke Sumenep ini jelas menunjukkan bahwa pihak PLN telah lari dari tanggung jawabnya.
Sementara itu ketika Kepala PLN Sumenep dimintai keterangannya mengenai sering matinya penerangan listrik di Arjasa mengaku bahwa dana dari APBD tidak cukup untuk biaya listrik itu.
DPRD Sumenep menyayangkan dengan kondisi listrik di Arjasa yang sering mati. Kondisi tersebut menyebabkan pengeluaran ekonomi menjadi lebih tinggi. "Kita sayangkan, matinya listrik membuat cost ekonomi menjadi tinggi. Kasihan warga Arjasa," ujar salah seorang anggota DPRD Sumenep. Ia menuturkan, pihaknya akan segera memanggil sejumlah pihak agar hal ini bisa diselesaikan. **(ang/jhr)

0 comments:

Posting Komentar