Surat Untuk Bapakku, Syafi'ie

Bapakku Drs. Achmad Syafi'ie MS.I yang saya hormati....

Assalamu Alaikum Warohmatullahi wabarkatu....

Selamat Malam jika anda masih berada di Negara tercinta Indonesia....

Selamat Sore jika anda berada dinegara Petro dolar, Saudi Arabia....

Oh iya pak, selamat atas kepmimpinan bapak yang sudah dua tahun dan tepat hari ini bapak masuk di hari ke-2 ditahun ke-3 dalam kepemimpinan bapak untuk periode kedua ini.

Bapakku Syafi'ie...

Sengaja saya sebut diawal titel /gelar bapak Doktorandes- Migeste Scinse Islam atau mungkin bapak sudah bergelar Doktor (S3)???. Maaf pak belum say sebut karena saya belum tahu. Tapi yang jelas saya sebut gelar bapak karena saya bangga bapak punya gelar akademi yang sangat tinggi untuk ukuran masyarakat desa.

Tentunya, dengan gelar itu bahwa bapak adalah orang intelek dalam bidang ilmu pendidikan formal. Pun begitu saya tidak ragu dengan keberhasilan bapak sebagai santri yang sukses di Ponpes Bata-bata yang katanya diteruskan ke Ponpes Paiton-probolinggo. Kamo bangga pak.... Demi Allah Kami bangga. Jarang-jarang lho pak warga desa bisa bersekolah tinggi dan sukses baik di pendidikan umum dan pendidikan agama (Pondok pesantren).

O iya pak... Hampir lupa selamat atas kepemimpinan bapak yang ke dua...barokallah semuga tetap bisa amanah...
Aminnnn....

Bapakku...

Hari rabu tanggal 21 April 2015 dua hari yang lalu saya membaca koran harian lokal, yang di semua halaman penuh dengan foto-foto dan keberhasilan bapak dalam memimpin Kabupaten Pamekasan dalam 2 tahun ini. Semua program kayaknya baik-bagus-wah, dan sebagainya. Tidak ada rapor merah sedikitpun dalam pemaparan tahunan itu. Bahkan penghargaan Adipura secara berturut-turut digapai oleh Kabupaten pamekasan. Saluuutttt pak....

Bapakku....bapak mungkin beranggapan bahwa keberhasilan Kabupaten Pamekasan hanya ditentukan oleh Piala yang hanya terbuat dari material buatan Kota Bandung itu dan yang jurinya konon bisa dibayar. Dan penilaiannya hanya hanya beberapa jam. Yang artinya sebelum datang dewan juri dari kementerian maka semua jalur di Pamekasan harus steril, bersih, asri dan lain sebaginya.

Itulah Adipura-mu bukan adipura Rakyat pamekasan.

Tahu enggak pak, pada saat bapak memamerkan piala Adipura itu di surat Kabar harian itu ada penanaman pohon pisang ditengah-tengah jalan raya poros Kota pamekasan- Kecamatan palengaan. Kenapa sampai masyarakat menanami pohon ditengah jalan??? Karena gerah pak dengan jalan menuju ponpes Bata-Bata itu sudah lama rusak parah, bahkan sering terjadi kecelakaan yang mengakibatkan korban bahkan meninggal dunia.

Ponpes Bata-bata bapak masih ingat kan pak...??? Mudah-mudahkan bapak tidak lupa.

Diwaktu yang sama kebetulan saya perjalan ke arah Kecamatan Waru pak. Kebtulan Waru adalah basis bapak dalam Pilkada 2013. Tapi masyaAllah pak..jalan menuju pantura hancur-cur. Sering terjadi kecelakaan juga disana pak. Apakah bapak bangga menerima dan memamerkan piala Adipura itu..??

Bapakku...

Saya setuju jika Adipura diberikan kepada Kepala Daerah (Bupati) yang mempunyai rumah mewah, lantai 3 yang luasnya diatas tanah hampir 1 hektar. Maka bapak mungkin salah satu yang bisa menerima Adipura katagori "Bupati dengan rumah mewah" dan itu tidak salah jika bapak menerima itu. Kenapa??

Pada suatu hari kami jalan-jalan ke daerah kelurahan Lawangan Daya. Disitu ada Rumah mewah dengan tinggi pagarnya hampir 4 meter dihiasi pohon-pohon Pulai di depan teras rumah itu. Eh kami iseng bertanya. Siapa gerangan yang mempunyai rumah yang paling besar di deretan itu??? "Itu punya bapak Bupati, Syafi'ie" kata orang sekitarnya. Kami bangga punya Bapak dengan Rumah menjulang itu.

Bapak....Selamat menikmati hidup bergelimangan...
Kami akan hidup dengan penyampaian....
Cukup dengan titah kami menyampai...
Tuah petitah akan kami urai...
Yang suatu saat akan sampai...
Sampai bukan kaya...
Tapi sampai dengan karya...
Berhasil bukan hanya Adipura...
Tapi adipura dengan jelata rakyatmu....

Wassalamu Alaikum bapakku....

Ditulis oleh: Klaber Machan.
Tinggal dipuing kontrak alam Pamekasan.

0 comments:

Posting Komentar