H.Junaidi Kembalikan Tanah Ke KH.Syakrani Ali

KH.Syakrani Ali Bersama putranya Ahsan Syakrani Ali (foto:detak.com)

Detak, Pamekasan.

Persoalan sengketa tanah antara keluarga H.Ali Albija (Almarhum) melalui anak keduanya KH.Syakrani Ali dengan H.Junaidi yang merupakan keturunan dari H.Madani (almarhum) rupanya tidak akan berlanjut ke meja hijau. H.Junaidi melalui jubirnya, H.Syaifi menyerahkan kembali tanah yang dikuasai keluarga H.Junaidi sejak tahun 1977 tersebut kepada KH.Syakrani Ali.

Penyerahan dilakukan dikantor hukum Marsuto Alfianto, SH.MH gedung Islamic centre lantai 2 Pamekasan beberapa waktu lalu.

Penyerahan dilakukan oleh H.syaifi yang mendapatkan amanah dari H.junaidi. "Ini (penyerahan) kami lakukan setelah kami melakukan musyawarah keluarga, bahwa kami tidak mau terjadi perselisihan keluarga yang berujung kepada perpecahan" kata Syaifi kepada Detak.com beberapa waktu lalu.

Ini dilakukan, jelas Syaifi karena adanya somasi dari dari pihak KH.Syakarani Ali melalui Penasehat Hukumnya (PH) Alfian. "Setelah mendaptkan somasi itu, kami berembuk dengan keluarga, termasuk dengan paman Syakrani untuk menyampaikan bahwa penguasaan tanah tersebut diakhiri dengan musyawarah kekeluargaan. Tidak ada cara untuk melalui meja hijau" jelas Syaifi sambil menyerahkan kertas berwarna buram yang berisi keterangan bukti pajak taun 1977.

Pengamatan detak.com, bahwa kertas bertuliskan bukti setoran pajak itu bernama wajib pajak H.Syarifa. Hj. Syarifa belakangan diketahui adalah ibu dari H.Junaidi.

Alfian yang tidak berada dikantornya pada saat itu (sidang di PN Sampang) tidak bisa menemui utusan H.junaidi. Tapi alfian mengamini dan memberikan penilaian positif dari H.Junaidi untuk mengembalikan tanah warisan itu.

Alfian menjelaskan secara singkat, bahwa tanah yang dikuasai H.Junaidi bukan tanah warisan dari garis Ibunya H.Junaidi ataupun dari bapak H.junaidi (H.Madani). "Jadi tanah tersebut hasil pembelian yang dilakukan oleh H.Ali yang merupakan tokoh masyarakat dan tokoh spritual pada saat itu. Nah singkatnya, tanah itu informasinya H.junaidi mendapatkan waris dari bapaknya (H.Madani) hasil jual beli dengan H.Ali pada tahun 1977. Nah, ternyata H.Ali ini sudah meninggal sejak tahun 1971. Ini yang emnimbulkan kecurigaan bahwa proses jual-beli itu tidak ada. Makanya kami somasi dan minta secara baik-baik tanah tersebut" jelas Alfian.

"Untuk selanjutnya kami akan meminta tanda tangan secara resmi kepada pihak H.junadi agar permasalahan tanah itu menjadi clear" pungkas pria kelahiran Sampang ini.(Yan/ibnu)

0 comments:

Posting Komentar