12 Tahun Membuat Bata, Bisa Kuliahkan 2 Putranya.

Mistarun di "Pabrik" batu bata miliknya. (Dok: detak.com)

Detak, Pamekasan.

Kerja keras tak kenal lelah yang ditunjukkan Mistarun (72 th) patut diangi jempol. Pasalnya hanya mengandalkan semangat tak kenal pria renta bersama isterinya, Nimah (58 th) dalam mengolah tanah liat menjadi batu bata membuat pasangan ini bisa menyekolahkan 2 putranya hingga perguruan tinggi. Saluttttt.....!!!

Selama 12 tahun pasangan suami-isteri ini, hanya dengan modal tanah sewaan dengan semangat dan rajinnya mengolah tanah tersebut hingga bisa menjadi satu-satunya "penupang hidup" bagi dia dan keluarganya.

Minggu (26/4/2015) pagi-pagi sekali. Jam masih menunjukkan pukul 05.30 dengan tenaga seadanya pria renta ini mengolah tanah liat. Cangkul diangkat dihentakkan ke tanah, terangkatlah segumpal tanah liat terkumpul menjadi gundukan yang siap untuk diproses lebih lanjut. Sekali-kali pria dengan ciri khas kopiah hitam khasnya melirik ke arah isterinya yang terlihat merapikan hasil pembakaran batu bata beberapa hari yang lalu.

Sambil mencangkul, Mistarun sekali-kali menghisap rokok kretek lintingan sendiri yang diselipkan disisi jari manis dan telunjuknya. "Srupppp"!!!! Puas terasa dibenaknya.

5 menit kemudian, dia berhenti mencangkul bukan karena lelah. Tapi karena ada tamu.

Ya, detak.com kebetulan melintas diarea milik pria asal kecamatan palengaan ini. Detak.com mencoba melihat dari dekat bagaimana proses pembuatan batu bata milik Pak Mistarun dari dekat. Maklum sudah tersiar secara umum bahwa batu bata milik pak Mistrarun terkenal kuat untuk bahan bangunan.

"Ooo rupanya ada tamu" sapa Mistarun dengan menyalami Detak.com.

Tangan kanannya menjulur, diterima detak.com dengan tangan kanan pula. Terasa telapak tangannya agak terasa kasar ketika bersalaman. Menandakan bahwa bapak sepuh ini selalu menggunakan tangan telanjang ketika bekerja membuat bata. Tanpa menggunakan kaos tangan pengaman!.

"Maaf mas tangan saya kotor. Maklum tiap harinya kerja beginian" ujar Mistraun mengawali pembicaraan dengan logat Maduranya yang kental.

"Perlu apa mas, kok tumben pagi-pagi sudah kesini?" Ujarnya.

"Biasa pak. Cuma lihat-lihat" jawab tim detak.com.

"O ya pak bagaimana sih cara buatnya batu bata pak Mistarun kok sampai terkenal dengan kuatnya. Gak gampang patah atau rusak"

"Sederhana saja mas, pertama kami mengolahnya dengan cara saya sendiri. Karena mungkin sudah pengalaman itu sehingga tahu cara agar tidak mudah patah" jawabnya.

Mistarusn meneruskan kisahnya, pada mulanya bahwa dia membuat bata karena kebetulan. Bukan karena meneruskan dari keluarga sebelumnya.

Awalnya, pada saat dia mau mebuat rumah, batu yang dipakai untuk membuat rumahnya sangat mudah patah. Karena itu dia langsung melakukan inisiatif sendiri untuk membuat batu bata untuk membuat rumah tersebut.

"Karena sering patah batu batanya, maka saya berhentikan pada saat itu untuk buat rumah. Akhirnya saya buat sendiri" jelas Mistarun.

"Ya, setelah itu kami menjaga kualitas walaupun harganya katanya lebih mahal punya saya"

Mistarusn, mematok harga untuk 1000 biji batu bata dengan harga Rp 500 ribu rupiah.

Kini dengan kegigihanyya Mistarun bisa menyekolahkan putranya hingga perguruan tinggi. (Yan/tim)

0 comments:

Posting Komentar