Ternyata Ketua STKIP Sumenep Plagiator

SUMENEP--Dunia perguruan tinggi di Indonesia tercoreng kembali setelah Anggito Abimanyu terjerat kasus plagiasi. Dosen senior UGM yang dikenal sebagai pakar keuangan terpeleset kasus plagiasi (jiplak-menjiplak). Kali ini Ketua STKIP PGRI yang juga Ketua Umum LDII Sumenep, Dr. Musaheri, M.Pd MM mengulang kasus yang sama.
Berbeda dengan Anggito yang 'hanya' terpeleset dari sebuah artikel tahun 2006, Musaheri jauh lebih dari itu, menjiplak  dari beberapa buku karya orang lain dan menerbitkannya menjadi karya sendiri. Buku yang dimaksud adalah "Pengantar Pendidikan" karya Musaheri yang dihimpun dari modul UT, pasal-pasal dari beberapa undang-undang, dan beberapa buku yang kesemuanya dijiplak secara utuh tanpa menyebutkan sumbernya. Artinya, dalam tulisan tersebut Musaheri mengklaim sebagai karyanya.
Ketika dikonfirmasi di kampus STKIP PGRI Sumenep beberapa bulan lalu, Musaheri mengakui bahwa buku "Pengantar Pendidikan" yang beredar luas adalah hasil plagiasi dari beberapa buku karya orang lain. Oleh karenanya, Musaheri mengajak wartawan ini 'berdamai'. Berdamai menurut kamus Musaheri berarti kasus plagiasi yang menimpanya tidak diberitakan di koran, dan tidak dibesar-besarkan.  Utamanya tidak disebarkan kepada wartawan dan stakeholder yang ada.
 Samsuri, alumni STKIP PGRI Sumenep menyayangkan perilaku Musaheri yang  melakukan plagiasi, "Mestinya Pak Musaheri itu memberi teladan kepada mahasiswanya," komentarnya tegas, "Kok malah memberi contoh mencuri karya orang lain. Plagiasi itu bahasa asing, bahasa kita adalah mencuri. Artinya, Pak Musaheri pencuri." Terang Samsuri Senin (31/1/).
Pengacara kondang, Azam Khan, asal Sumenep yang kini sebagai anggota Tim ILC TV One ikut mengomentari kasus plagiasi ini. Menurutnya, tindakan Musaheri tidak bermartabat dan menodai dunia akademisi. Apalagi, kata Azam, yang menjiplak itu pimpinan sebuah PT. "Secara hukum, Musaheri itu sudah bisa dituntut dengan undang-undang hak cipta," ujar Azam. Pendapat  yang tak kalah pedasnya dilontarkan Advokat Marsuto Alvianto, MH "Yang perlu diperhatikan bukan masalah tuntutan hukumnya, tapi berkaitan dengan moral seorang profesional yang bergelut di dunia kampus. Bukankah Musaheri itu seorang doktor?"
Kecaman pedas juga dilontarkan Teguh, mahasiswa Unej Jember asal Sumenep merasa kecewa dengan tindakan Musaheri. Kata aktifis kampus ini, "Tidak layak seorang Musaheri memimpin sebuah PT di Sumenep. apalagi PTS yang dimaksud memproduk guru di berbagai jurusan," ujarnya panjang lebar, "Dosen kok menjiplak! Mestinya ia tidak buru-buru menerbitkan buku yang bukan karyanya. Ia harus banyak belajar menulis. Kalau perlu jadi peserta tetap Diklat Penulisan," katanya berapi-api.
Terkuaknya buku "Pengantar Pendidikan" yang diklaim sebagai karya Musaheri bermula dari sms yang beredar di kalangan mahasiswa STKIP PGRI Sumenep. Dalam SMS yang tidak jelas pengirimnya menyebutkan buku-buku yang dijiplak Musaheri. Dari sanalah beberapa LSM dan aliansinya mulai mempelajari kasus pembodohan kepada masyarakat itu.  Terkuak, hampir 90% karya Musaheri itu hasil plagiasi karya orang lain. Plagiasi memiliki makna serupa dengan pencurian. Itu artinya, pelanggaran yang dilakukan pentolan LDII Sumenep itu adalah pencurian intelektual.
Dalam soal plagiasi, yang lebih menyakitkan kepada dunia pendidikan adalah pernyataan Musaheri, "Bagi saya tidak apa-apa dimuat di media massa nasional sekali pun. Bahkan media massa bertaraf dunia saya berterima kasih," tantangnya dengan wajah memerah. Konon, keberanian Musaheri menantang pihak-pihak yang mempermasalahkan plagiasinya itu dilatarbelakangi oleh sebuah LSM yang selalu mendampingi. (Yan)
 

0 comments:

Posting Komentar