Catatan Em Saidi Dahlan: "Kurikulum Gonjang-Ganjing"


Kurikulum Gonjang Ganjing
Catatan Em Saidi Dahlan

Semestinya, dalam berbagai teori, kurikulum itu direview paling cepat dalam satu dasa warsa, atau sepuluh tahunan. Jika kurang dari satu dasa warsa, tentu tidak efektif. Bayangkan, suatu kebijakan yang 'menasional' akan sampai ke daerah pelosok terpencil membutuhkan waktu yang tidak singkat. Informasi ke daerah plus implementasinya tidak setahun bisa deal. Apalagi tidak sekadar perubahan kurikulum, tapi harus menyesuaikan kemampun SDM, dari sekedar menginformasikan, melatih dan tetek bengek lainnya.
Anda mungkin sepakat, implementasi Kurikulum 2013 itu terkesan buru-buru. Bayangkan, kurikulum sebelumnya diimplementasikan pada tahun 2006. Itupun setelah sosialisasi lebih tiga tahun lamanya. Tujuh tahun berikutnya diganti menjadi Kurikulum 2013 (K-13). Padahal tidak semua sekolah, terutama yang ada di pelosok, sudah melaksanakan Kurikulum 2006 itu, eh kok malah diganti sebelum mereka merasakan nikamtnya kurikulum baru.
"Sekarang," kata Pak Sakerah kepada shohib-nya, "orang-orang di Jakarta yang sibuk. Apa tetap K-06 atau K-13. Itu masih ditimbang-timbang. Belakangan Bang Anies Baswedan memutuskan begini: Anies lebih memilih kembali ke K-06, sedangkan sebagian sisanya yang sudah kadung ikut beragam macam pelatihan itu pancet menggunakan K-13."
Pak Kamit diam. Ia membayangkan kemenakannya yang guru SD. Betapa ia, si kemanakan tadi, sibuk. Sibuk untuk memilih, apa tetap di K-13 atau kembali ke K-06. Bang Anies, pikir Pak Kamit, tidak menyertakan alasan rinci terkait keputusannya itu. Tim pengkaji pun merasa tidak independen ketika menghadapi Bang Anies. Meskipun usianya masih jauh lebih 'bau kencur' dari pada Prof. Suyanto, tapi tim itu harus tunduk. Bang Anies itu menteri yang menangani lembaga yang mengurus adab-budaya dan pengajaran. Bang Anies, meskipun masih ennom, tapi bisa memecat Suyanto yang sudah guru besar itu dengan cara mengusulkan ke Pak Jokowi. Jika ini persoalannya, jangan tanya mana yang independen dan dependen.
Pak Nuh, yang jauh lebih senior dari pada Bang Anies—baik sebagai menteri ataupun dari segi usianya—uring-uringan. Kurikulum rancangannya tiba-tiba di-delet dari peredaran. Kira-kira kalau Pak Nuh misu akan berkata begini: "Coba dulu leh, baru berkomentar baik atau tidaknya K-13. Mentang-mentang dikau jadi menteri yang gak ada pekerjaan, tiba-tiba men-delet­ kurikulum yang sudah aku proklamirkan seantero dunia. Padahal kalau mau kerja, sebagaimana slogan Pak Presiden yang 'kerja-kerja-kerja' tanya aku saja yang sudah lebih dulu jadi menteri. Pengadaan buku yang belum tuntas itu juga pekerjaan leh. Pemerataan informasi yang belum tuntas kepada semua insan pendidik, itu juga pekerjaan leh. Kamu kok aneh-aneh, takut gak dapat pujian Pak Jokowi."—mohon maaf Pak Nuh, mantan Mendikbud era SBY belum sempat mengatakan semua ini.
Kira-kira Bang Anies akan membalas begini: "Itu urusanku, bukan urusanmu. Apa aku tidak ingin juga mendapat pujian? Lagi pula, K-13 itu belum siap. Anggarannya terlampau besar. Padahal Presiden sekarang memangkas semua jenis anggaran. Anggaran sekarang difokuskan pada pembangunan fisik. Revolusi mental itu hanya slogan. Kamu tahu apa soal perkembangan politik terkini. Tidur sajalah Pak Mantan Menteri, agar diabetmu gak kumat."—sekalil lagi mohon maaf, Pak Menteri Anies Baswedan belum membalas pisuan-nya Pak Nuh.
Pak Sakerah terkekeh sendiri membayangkan pertengkaran kecil kedua orang besar itu. Tapi kemudian tawanya terhenti ketika shohib-nya, Pak Komat bertanya. "Apa nama kurikulum yangs ekarang ini, Pak Sakerah?"
Pak Sakerah clingak-clinguk, diam sesaat. Lalu katanya, "Kurikulum sekarang bernama Kurikulum Gonjang-ganjing!"
"Ha?" mereka tersentak. Lalu diam untuk beberapa saat.
Em Saidi Dahlan (09/12/2014) e-mail: endydahlan@ymail.com  - refadelisa@yahoo.com

0 comments:

Posting Komentar