Catatan Em Saidi Dahlan: Antara Mantri, Menteri dan Materi

Antara Mantri, Menteri dan Materi

Catatan Em Saidi Dahlan
Mungkin anda termasuk orang yang berharap-harap cemas setelah dilantiknya Presiden Jokowidodo. Cemas utamanya, karena Pak Jokowi tidak segera mengumumkan kabinetnya. Siapa saja orang yang akan membantu beliau sampai di penghujung tugasnya, sampai kini belum diumumkan. Meskipun saya yakin, Anda adalah salah seorang yang tidak berharap menjadi menteri. Mungkin karena Anda tidak berkapabilitas untuk menjadi menteri, atau memang Anda bukan orang partai, atau bisa saja karena Anda sejak awal tidak mendukung pencalonan Pak Jokowi. Hari ini saya tegaskan, saya tidak berharap mendapatkan SK dari Presiden untuk menjadi menteri. Toch Jokowi tidak kenal dan tidak tahu saya, meskipun saya tahu dan tidak kenal Jokowi. Dan ingat, bisa mungkin semua kemungkinan di atas itu salah. Sebab ternyata, Anda berharap dipanggil ke Istana, dan nama Anda diumumkan oleh Pak Jokowi untuk menjadi menteri. Entah menteri apa, yang penting nama Anda masuk di dalamnya.
Saya ingatkan, jika Anda termasuk pada deret terakhir tesis di atas, orang yang menunggu mendapatkan SK dari Presiden Jokowi, Anda jangan tidur sedikitnya tiga hari-malam suntuk. Sebab bisa saja, tiba-tiba Jokowi mengumumkan kabinetnya pada dini hari nanti, sekitar pukul 2 pagi. Namun kemudian, entah karena salah ketik atau ada hal lain yang tidak beres, dua jam berikutnya nama Anda tiba-tiba dicoret pada pengumuman kedua. Ini kan berabe, dan bisa dihitung berapa hutang perasaan Pak Jokowi terhadap Anda, lantaran terkejut tiba-tiba, kok namanya tiba-tiba menghilang. Anda tidak bisa teriak, sebab ternyata pagi harinya pengumuman itu tidak mencantumkan nama Anda. Tapi bisa saja Anda meng-MK-kan, atau mempolisikan, atau memra-TUN-kan dengan tuduhan yang aneh-aneh: "Perbuatan tidak menyenangkan"—iya, tidak menyenangkan Anda meskipun menyenangkan orang banyak. Maaf, itu hanya mimpi dan khayal seorang yang tidak berharap dipanggil Jokowi untuk menjadi menteri.
Saya tidak terkejut dengan ulah di atas. Tapi yang sangat mengejutkan pikiran saya pernyataan Pak Sakerah yang tiba-tiba menyandingkan tiga kosa kata: "Mantri, Menteri dan Materi". Lho? "Apa bedanya mantri, menteri dan materi?" kata pembuka Pak Sakerah pada jamuan istiqosah, doa bersama untuk memohonkan keselamatan bangsa Indonesia atas riuh-rendah pasar valas.
Lho, kok dihubung-hubungkan dengan pasar? Saya tegaskan, pasar di sini berbeda dengan pasar tradisional, yang menurut fiqh sebagai pasar tak terlalu jelas. Bayangkan, ada transaksi tanpa barang, dan uangnya pun tidak di tangan. "Katanya bursa emas, tapi kita tidak melihat bendanya seperti apa, dan kita tidak membayr transaksi itu dengan cash. Bukankah dunia mulai berubah?" Pak Sakerah sok cerdas. Maklum, kemenakannya yang sulung kemarin lalu telah menempuh serangkaian ujian terbuka doktor ekonomi di sebuah PTS terkemuka. Makanya, meskipun tidak paham akan dunia ekonomi dengan segala istilahnya yang aneh-aneh, Pak Sakerah mencoba belajar sebisanya. Hasilnya, tetap tidak bisa.
Soal ketidakjelasan pasar sebagaimana dikemukakan Pak Sakerah tampaknya memang benar. Masa, katanya berapi-api dengan logat khas Madura-nya, "Orang pada membeli uang? Jadi, uang Indonesia membeli uang asing. Sebaliknya, uang asing membeli uang Indonesia. Jelasnya, uang membeli uang. Kok edan ya?"
"Mestinya uang untuk membeli sayur, Pak," rekan lamanya, Pak Komat menimpali. "Atau uang untuk ongkos naik becak saya sampai tujuan. Kok bisa ya?"
Itulah, yang menurut kesimpulan mereka, para ulama itu perlu menimbang kembali hukum 'membeli uang dengan uang'—yang menurut masa lalu Pak Sakerah, dulu, membeli beras dengan membayar sayur, memberi onkos jasa dengan sebungkus jagung, dan sebagainya. Untuk yang ini, kita kenal dengan istilah 'barter'—tukar-menukar barang dengan barang, bukan uang dengan barang dan sebaliknya.
Tapi di tengah perbincangan itu, pasar tak jelas itu dipengaruhi oleh susunan kabinet yang akan diumumkan Jokowi. Pasar begitu rentan, sensitif, dan ekstrim menanggapi persoalan dalam negeri. Katanya, pasar menungngu pengumuman dari istana, dan valas akan bergerak ke atas atau ke bawah yang menentukan nilai rupiah atas dolar.
Sementara, di tengah istiqosah itu, yang mengemuka dibicarakan adalah perbedaan ketiga kosa kata tadi. Pak Sakerah yang melontarkan kali pertama ketiga istilah itu menjelaskan; "Mantri itu tukang suntik, tapi bukan asisten dokter. Sekarang mah memang tidak ada yang namanya mantri. Mantri menyuntik untuk mendapatkan uang. Sedangkan menteri itu pembantu presiden, yang ujug-ujugnya juga mendapatkan sesuatu, berupa materi atau apapun namanya, dari Pemerintah. Sedangkan materi adalah sesuatu, berwujud benda mestinya, yang diperoleh dari berbagai macam cara. Itu perbedaannya," jelas Pak Sakerah panjang lebar.
"Lalu, tinggi mana ketiga benda itu derajatnya?" Pak Kamit, orang yang dianggap cerdas setelah Pak Sakerah, mengajukan pertanyaan.
"Jelas materi lebih tinggi," serempak forum istiqosah itu menyahut. "Mantri melakukan tugasnya untuk mendapatkan materi, dan ia tidak membantu dokter. Sedangkan menteri menjalankan tugasnya untuk mendapatkan materi, tapi ia sebagai pembantu presiden. Sedangkan materi sendiri adalah sesuatu yang diperebutkan oleh keduanya," sambung Pak Komat enteng.
Jadi, ternyata mantri dan menteri itu berbeda: sama-sama untuk mendapatkan materi. Dan itu menunjukkan bahwa pasar ternyata lebih tinggi dari pada mereka.
Em Saidi Dahlan (22/10/2014) e-mail: endydahlan@ymail.com







0 comments:

Posting Komentar