Buku "Menuju Sumenep Cerdas 2014", Gagasan Brilian KH. Busyro Karim dalam Meningkatkan Kualitas SDM

Buku Karya Busyro Karim:


Menuju Sumenep Cerdas 2015, Gagasan Brilian yang Menasional
Semua orang pasti sepakat, untuk memajukan suatu bangsa maka harus mengubah peradaban bangsa itu. Mengubah peradaban tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebab proses perubahan itu akan menghadapi banyak tantangan yang tidak ringan. Oleh karena itu, dalam mengubah peradaban diperlukan media sebagai alat, dan alat itu bernama pendidikan. Maka, dalam bahasa yang sederhana, memajukan suatu bangsa dari berbagai aspek harus melalui pendidikan. Siapa pun yang menjadi pemimpin di negeri ini, baik lokal maupun nasional, akan merasakan banyaknya kendala dalam pengelolaan pendidikan. Mengelola pendidikan adalah mengelola SDM (Sumber Daya Manusia).
Tesis di atas adalah cuplikan dari uraian buku "Menuju Sumenep Cerdas 2015--Pengelolaan Pendidikan Secara Profesional"yang ditulis KH. Drs. A. Busyro Karim, M.Si, bupati Sumenep 2010 -2015. Bupati Sumenep yang candidate dovtor itu menguraikan beberapa fakta, lalu memberikan solusi atas kendala pengelolaan pendidikan di Daerah. Jika fakta itu tidak hanya berfokus pada Sumenep, maka buku karya Busyro yang kesekian itu menjadi buku 'wajib' bagi pengelola pendidikan di daerah mana pun di Indonesia. Buku yang kata pengantarnya ditulis oleh Dr. Muhammad Saidi, M.Pd., MM itu diterbitkan Absolute Media Yogjakarta dengan tebal 207 hlm. Terbitan perdananya tahun 2014.
Lebih jauh, dalam pengantarnya, Muhammad Saidi, menegaskan: mengelola pendidikan secara profesional erat kaitannya dengan Standar Nasional Pendidikan yang digariskan Pemerintah berupa: standar isi;  proses; kompetensi lulusan; pendidik dan tenaga kependidikan; sarana dan prasarana; pengelolaan; pembiayaan; dan  standar penilaian pendidikan. Kesemua standar itu adalah batasan minimal yang harus dipenuhi oleh satuan pendidikan, yang ditunjang pemenuhannya di antaranya Pemerintah Pusat dan Daerah. Kesemua standar itu tidak mungkin dicapai (hanya) oleh satuan pendidikan, baik negeri maupun swasta tanpa campur tangan pihak lain. Oleh karena itu, diperlukan kebersamaan stakeholder yang ada agar pengelolaan pendidikan menjadi profesional.
Dalam menyusun buku, kalimat yang diuntai Busyro memang terkesan ia sebagai penulis yang profesional. Beberapa buku dengan berbagai tema sudah terbit. "Beliau memang sosok yang cerdas. Layak menjadi pemimpin di mana pun dia berkiprah," komentar Syamsul Arifin, SH, pengacara, Pimred Cakrawala Post Online. Menurutnya, tulisan-tulisan Busyro mengalir dan enak dibaca. Dalam buku "Menuju Sumenep Cerdas 2015" Syamsul Arifin berharap bisa diaplikasikan sampai ke tingkat bawah. "Sekarang, tinggal Dinas Pendidikan saja yang diuji untuk mengimbangi pemikiran Bupati Sumenep itu," pungkas Syamsul.
Namun perlu diingat, sering sekali konsep besar dan brilian tidak mampu diimbangi oleh dinas yang membawahi pendidikan. Oleh karena itu, Busyro Karim yang kapasitasnya sebagai Bupati Sumenep pernah 'mewajibkan' setiap PNS di Sumenep harus menyisihkan penghasilannya untuk 'belanja' buku. Ia ingin mengatakan, tiang peradaban itu adalah membaca. "Sayangnya, anjuran itu tidak diikat oleh aturan yang menggiring kesadaran agar PNS itu benar-benar memperhatikan," ujar Dewi Istiwatie, guru SMAN I Sumenep. Menurutnya, budaya memperoleh informasi di Indonesia, termasuk Sumenep tentunya, masih berkutat pada budaya lisan. Apalagi, sebagaimana yang dilakukan KH. Busyro Karim, sudah mencapai budaya menulis. Oleh karena itu, untuk mencapai budaya baca itu, tegas Dewi Istiwatie, dibutuhkan kepiawaian pemimpin yang bisa menyadarkan masyarakat luas.
Hal lain yang perlu diperhatikan, kiprah Dinas Pendidikan, di mana-mana, hampir tidak mampu mengimbangi perubahan zaman yang terus bergulir. Tuntutan kebutuhan pendidikan, setidaknya agar generasi masa depan bangsa memiliki atitue, skill dan knowledge tidak hanya isapan jempol. Oleh karena itu, Bupati Sumenep tidak canggung mengoreksi pejabat struktural yang ada di Dinas Pendidikan. "Utamakan moral dan kemampuan," ujar Sutrisno, seorang pemerhati pendidikan. Jika memang tidak mampu, meskipun moralnya bagus, jangan ngurus pendidikan. Kasihan anak bangsa. Sebaliknya, meskipun memiliki kemampuan tetapi memiliki 'sejarah masa lalu' yang tidak bagus, sudah saatnya tidak berada dalam pengelolaan pendidikan. Sebab tidak bisa menjadi teladan anak-anak bangsa itu. Maka, buku "Menuju Sumenep Cerdas 2015" itu menjadi ukuran bagi Dinas Pendidikan dalam pengelolaan pendidikan secara profesional. Sebab, sebagaimana dalam buku tersebut, Busyro Karim mempunyai harapan besar yang ditumpukan, utamanya, kepada Dinas Pendidikan.
Buku "Menuju Sumenep Cerdas 2015--Pengelolaan Pendidikan Secara Profesional"yang ditulis KH. Drs. A. Busyro Karim, M.Si, bupati Sumenep, layak dibaca oleh siapa pun. Utamanya insan pendidik dan pengelola pendidikan di Sumenep. (Sul)













0 comments:

Posting Komentar