Ada 'Tikus" dalam Kata Politikus (Catatan Syamsul Arifin, SH)

Catatan SYAMSUL ARIFIN DAHLAN: Sekedar bermenung pada pidato seorang tokoh penentu sejarah dunia John F. Kennedy yakni: "Jangan tanya apa yang dapat diperbuat oleh negara kepadamu, tetapi tanyakanlah apa yang dapat kau buat bagi negara!". Petikan pidato Presiden ke-35 Amerika Serikat yang belakangan seringkali berseberangan dengan perilaku politikus kebanyakan di negeri ini. Tentu saja semua orang juga sudah merasakan apa yang juga saya rasakan.
Oleh karena saya terinspirasi dengan ungkapan John F. Kennedy, saya dibuat mantuk-mantuk oleh obrolan orang awam ketika nongkrong di warung kopi. Maaf, saya katakan awam, karena mereka terdiri dari tukang ojek, abang becak, sopir taksi, tukang ramal, dan masih banyak lagi yang tak jelas asal-usulnya terlibat dalam sebuah 'diskusi' semi ilmiah. Saya katakan 'semi ilmiah' , karena faktanya memang ada, tapi sayangnya tidak didukung oleh pendapat ilmiah. Maklum, mereka adalah kelompok masyarakat awam yang sekolah formalnya saja belum jelas.
Ada yang fantastis dari obrolan mereka, bahwa menghadapi pileg 9 April mendatang partai-partai yang kini bertarung dipenuhi oleh orang-orang yang tak bermoral dan tak beradab. Simpulan yang sederhana. Tapi didukung fakta yang menyebar luas di mata orang banyak. Artinya sifat 'Tikus'-nya masih melekat pada watak para Politikus di negeri ini.
Saya tiba-tiba terpana dengan celetuk seorang abang becak berusia sepuh, tapi tenaganya masih kekar. Ia berkata lirih tapi tegas: "Saya sangat meris dengan ulah politisi jaman sekarang," Saya heran, abang becak yang satu ini terpelajar atau sekedar mengritik? Tak tahan dengan celetukan orang yang satu ini, saya bertanya, "Maksudnya apa Pak?"
"Coba kita lihat lebih dari 90% caleg yang ada baik di daerah mapun pusat  sekarang maju lagi sebagai caleg untuk 2014 - 2019. Mewakili siapa itu? Dan betapa sedikitnya Undang-undang yang di telor-kan anggota DPR Priode 2009 - 2014 ini belum lagi kualitasnya yang belum mencukupi sehingga sering di gugat ke Mahkamah Konstitusi" sahutnya sengit.
Obrolan itu tidak sederhana. Karena memang kenyataannya bahwa Partai Politik sebagai kendaraan untuk menjalankan demokrasi di Indonesia dari hasil Survie LSN baru-baru ini menempatkan sebagai lembaga yang paling tidak bisa dipercaya karena : Partai diparleman banyak terlibat kasus korupsi, parpol dianggap juga tidak memperdulikan nasib masyarakat. Pengurus partai politik dianggap berperilaku pragmatis dalam menyikapi isu/masalah nasional dan tekakhir banyak kasus amoral yang melibatkan kader partai, seperti perselingkuhan, gratifikasi seks, korupsi dan narkoba.
Maka dari itu kita perlu lebih cerdas dalam memilih wakil rakyat periode 2014-2019. Mudah-mudahan beratnya tantangan politik nasional 2014 ini bisa kita lalui untuk menjadikan Indonesia lebih makmur dan sejahtera. Semoga saja, meski ada kata 'tikus' dalam kata 'politikus', tidak menjadikan perilaku politisi dalam berpolitik seperti 'tikus'. Yang jelas, "Jangan tanya apa yang dapat diperbuat oleh negara kepadamu, tetapi tanyakanlah apa yang dapat kau buat bagi negara!". Itu saja.**
 

0 comments:

Posting Komentar