Rekrut Priyo ke Tim Pemenangan, Prabowo-Hatta Tidak Pro Pemberantasan Korupsi

JAKARTA -- Bergabungnya elite Partai Golkar, Priyo Budi Santoso ke dalam Tim Sukses Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dinilai akan memperberat langkah pemenangan pasangan itu.

Menurut pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Arbi Sanit, langkah Prabowo-Hatta menggaet Priyo ke dalam tim pemenangan adalah blunder politik yang menunjukkan pasangan itu tidak propemberantasan korupsi. Sebab, nama Priyo sudah sering kali disebut dalam proses penyelidikan kasus korupsi pengadaan Alquran di Kementerian Agama.

"Priyo akan berpengaruh buruk karena dia potensial jadi koruptor. Memang survei menyebut dia (Priyo, Red) sebagai tokoh muda potensial. Tapi realitasnya dia itu potensial koruptor. Masa Alquran saja dikorupsi," tegas Arbi di Jakarta, Sabtu (31/5).

Karena itulah, Arbi menyatakan dirinya kurang yakin pasangan Prabowo-Hatta akan mendapat banyak suara pemilih dengan merekrut orang-orang bermasalah.

"Itu mimpi kali. Sok populer, padahal tak populer," imbuhnya.

Sebagai bukti, dia merujuk pada perkara korupsi impor sapi yang melibatkan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang juga mengusung Prabowo-Hatta, Luthfie Hasan Ishaaq. Pascakejadian itu, PKS langsung "dihukum" pemilihnya pada Pemilu Legislatif 2014 lalu.

"Prabowo bisa dianggap mengumpulkan koruptor, mulai dari Suryadharma Ali, belum lagi ketua umum PBB. Hubungan korupsi dan elektabilitas itu sudah ada bukti. Artinya korupsi politisi memengaruhi pilihan. PKS turun suaranya karena koprusi. Itu bukan omong kosong karena ada buktinya," kata Arbi.

Selain itu, Arbi juga menilai keberadaan Priyo sama saja dengan keberadaan mantan peserta konvensi capres Partai Demokrat, Marzuki Alie dan Ali Masykur Musa di kubu Prabowo-Hatta. Sebab baik Marzuki maupun Priyo, sebenarnya sama-sama merupakan figur yang tak laku di masyarakat.

Berdasarkan hasil Pileg 2014, baik Marzuki maupun Priyo, sama-sama tak lolos kembali ke DPR RI karena karena sama-sama gagal. Di dapil Jakarta, Marzuki Alie gagal bersaing, begitupun Priyo di dapilnya di Surabaya, Jawa Timur.

"Pemilu DPR saja tak lolos, apalagi pilpres. Kalau tak terpilih di pileg, seharusnya sadar bahwa dia sedang 'ditegur' pemilihnya. Makanya dia harus dengar suara hati pemilih. Ini politisi gede kepala yang tak menghargai konstituennya sih. Dia sendiri tak mengerti siapa konstituennya," beber Arbi.

Arbi mengakui pernyataannya itu cukup keras pada kubu Prabowo. "Saya memegang kebenaran, saya tak pusing. Kalau ada yang tak benar, ya saya sampaikan. Sejak dulu saya begitu," tegasnya.

(tpc/mjs/yud/bin)
BeritaLima Cyber Media Group » www.beritalima.comwww.sumateratime.comwww.satuwarta.comwww.caleg-indonesia.comwww.ipppk.comwww.potretdesa.com

0 comments:

Posting Komentar