Dua dokter konsisten nyatakan dua pasien meninggal akibat kurangnya obat dan oksigen

Simeulue,Aceh|Caleg-Indonesia --- Meskipun Direktur RSUD Aslinudin, SE, MKes dan Ketua IDI Cabang Simeulue dr.Asrinudin telah membantah bahwa dua pasien meninggal bukan akibat kekurangan obat dan oksigen. Namun, dua dokter yang menangani pasien tersebut menyatakan sebaliknya.

Dr. Afita, Sp. A dan dr. Sastra menyatakan penyebab meninggalnya pasien Andreas (5 bulan) dan Samsudin (45 tahun) adalah kurangnya oksigen dan obat di RSUD. Keduanya menampik pernyataan Dirut RSUD dan Ketua IDI Simeulue.

Pasien Andreas saat dibawa ke rumah sakit Kamis 8 Mei lalu sangat membutuhkan oksigen. Selaku dokter spesialis anak, dari awal Afita telah merencanakan Andreas untuk dirujuk ke rumah sakit Banda Aceh.

Hal itu dilakukan untuk mengantispasi kemungkinan si pasien terancam gagal pernafasan. Sedangkan, oksigen di RSUD yang berasal dari ruang central gas sudah rusak sehingga hanya berharap oksigen dari tabung gas.

"Kalau oksigen dari tabung gas minimal yang dibutuhkan antara 10 hingga 20 tabung. Sementara, jangankan 10 sampai 20 tabung, satu sampai dua tabung di rumah sakit kita saja tidak tersedia. Saya sudah sampaikan kepada rumah sakit tapi alasannya tabung gas ada tapi belum dibongkar dari truk," kata Afita,

Keterbatasan tabung gas untuk oksigen juga telah disampaikan Afita kepada keluarga pasien. Afita mengaku keberadaannya hanya memberikan pelayanan, bukan mencari tabung gas untuk kebutuhan pasien, melainkan tanggung jawab rumah sakit.

Kondisi Andreas mendadak memburuk sekira pukul 24.00 Wib malam sehingga Afita melakukan inkubasi ke bagian paru-paru pasien. Untuk inkubasi tersebut, Afita memberitahukan kepada keluarga Andreas oksigen tabung yang dibutuhkan 10 sampai 20 tabung jika menggunakan ventilator.

Upaya keluarga untuk menyelamatkan Andreas cukup gigih. Meski tidak mengetahui oksigen murni yang dibutuhkan, pihak keluarga berhasil mengumpulkan tabung gas berasal dari bengkel las.

"Itu memang benar adanya, pihak keluarga mencari tabung gas dari bengkel las yang sebetulnya tidak bisa digunakan sebagai oksigen murni. Karena pihak keluarga pasien tidak mengetahui kalau tabung gas las tidak bisa digunakan," jelas Afita.

Afita juga mengakui RSUD Simeulue masih keterbatasan obat. Untuk kebutuhan pengobatan Andreas, dokter spesialis ini membutuhkan obat antibiotic meropenem.

"Sayangnya, antibiotik tersebut tidak ada, sehingga antibiotik yang digunakan antibiotik standar seperti ampislin dan yang lain,"katanya.

Hal senada juga diakui dr. Sastra. Mantan Ketua IDI Cabang Simeulue ini menyebutkan therapy pasien sesak nafas berat dengan hypertensi emergency sangat membutuhkan oksigen.

Sementara, kondisi di RSUD tidak memiliki oksigen, alhasil tindakan yang dilakukan dokter ini hanya sebatas memasang infus.

"Kalau obat yang dibutuhkan saat itu amlodipin tab, ISDN tab dan furosemid inj," sebutnya.[monanda phermana / www.AJNN.net]



0 comments:

Posting Komentar